Marxisme

9:32 PM Edit This 1 Comment »
1. I. Sejarah Marxisme

Paradigma marxisme merupakan salah satu paradigma yang sangat berpengaruh bagi perkembangan teori – teori pergerakan kemasyarakatan. Marxisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bawah atau kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah atau hasil kerjanya[1]. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

Marxisme merupakan dasar dari teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan t, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Pemahaman diri sendiri Marxisme bukan merupakan suatu filsafat baru (menurut Marx, filsafat hanya sibuk menginterpretasi sejarah dan kenyataan), tetapi bermaksud menganti filsafat (dengan tujuan mengubah sejarah dan kenyataan). Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu “manifesto Komunis” di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme atau komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas atau kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.

1. II. Proses Dasar Marxisme

Pada dasarnya marxisme merupakan dampak dari adanya sikap materialisme[2] yang ada di masyarakat. Materialisme berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Proses tahapan itu meliputi tahap komunis primitif, tahap produksi kuno, tahap produksi feodal, tahap kapitalis, dan tahap komunis[3].

¯ Tahap komunis primitif

Selama masa prasejarah, manusia hidup dalam suatu kemiskinan yang sangat ekstrim, dan hanya mampu memperoleh makanan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dengan cara berburu, memancing dan mengumpulkan buah – buahan.Manusia hidup dari alam sebagai parasit, karena dia tidak mampu mengolah sumberdaya – sumberdaya alam yang menjadi basis- bagi kehidupanya. Pada tahap ini umat manusia tidak mampu mengontrol sumberdaya – sumberdaya alam yang ada.

Masyarakat primitif hidup berkelompok untuk menjamin kelangsungan hidup kolektif dalam kondisi yang sangat sulit. Semua orang mempunyai kewajiban untuk mengambil peran dalam proses produksi saat itu, dan kerja semua orang sangat dibutuhkan untuk membuat masyarakat tetap dapat hidup. Pemberian hak – hak istimewa untuk sebagian anggota suku akan mengakibatkan sebagian yang lain akan jatuh kelaparan dan akan dan akan membuatnya tercerabut dari kemungkinan bekerja secara normal, karena itu akan merusak kelangsungan hidup kolektif. Inilah alasan mengapa organisasi sosial pada tahap perkembangan masyarakat primitif cenderung menjaga keadilan secra maksimal di dalam komunitas manusia.

¯ Proses Tahapan Kuno

Perkembangan teknik pertanian dan peternakan membuat situasi kemiskinan yang sangat lama terjadi dalam masyarakat primitif sedikit terjadi perubahan yang signifikan. Teknik pertanian merupakan suatu revolusi ekonomi terbesar sepanjang sejarah kehidupan umat manusia.

Revolusi neolitik dimulai sekitar 15.000 SM di sebagian kecil wilayah dunia, yang kemungkinan besar pertama kali terjadi di Asia kecil, mesopotamia, iran, turkestan yang kemudia berangsur – berangsur menuju ke mesir, india, china, afrika utara, dan eropa mediterania[4]. Ini disebut dengan revolusi neolitik karena terjadi pada bagian masa dari jaman batu, yaitu ketika alat – alat kerja utama masih terbuat dari batu yang diasah (masa akhir dari zaman batu).

Revolusi neolitik membuat umat manusia mampu memproduksi makananya sendiri, karena itu masyarakat pada tahap ini sudah sedikit banyak bisa mengontrol kelangsungan kehidupanya mereka sendiri. Ketergantungan masyarakat primitif kepada sumberdaya yang ada di alam pun sedikit mulai berkurang. Revolusi neolitik memungkinkan pembangunan tempat penyimpanan makanan, yang kemudian membebaskan anggota – anggota komunitas tersebut dari kebutuhan untuk memproduksi makanan mereka sendiri. Demikianlah bagaimana sebuah pembagian kerja secara ekonomi dapat berkembang. Sebuah spesialisasi kerja yang dapat meningkatkan produktifitas kerja manusia. Hingga saat itu di dalam masyarakat primitif hanya terdapat spesialisasi kerja yang sederhana.

¯ Tahapan Feodal

Sebagai akibat dari munculnnya surplus makanan yang besar dan permanen maka organisasi sosial dalam kehidupan primitif mulai terjungkir balikan. Selama surplus tersebut relatif kecil dan hanya tersebar dari desa ke desa, maka tidak akan merubah struktur egaliter dalam komunitas desa. Tetapi ketika surplus tersebut dikondisikan di atas area yang luas oleh militer ataupemimpin – pemimpin agama, atau ketika surplus tersebut semakin melimpah di desa – desa sebagai perkembangan dari teknik pertanian, maka surplus tersebut dapat memunculkan kondisi bagi munculnya ketidakadilan sosial.

Pembagian kerja sosial kemudian melengkapi pembagioan kerja secara ekonomi (spesialisasi kahlian produktif). Produksi sosial tidak lagi dilakukan hanya untuk melayani kebutuhan produsenya. Oleh karena itu produksi sosial semenjak itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

ª Produk kebutuhan : yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup bagi para produsen yang tanpa adanya produsen ini masyarakat akan runtuh.

ª Produk surplus sosial : yaitu surplus yang dihasilkan oleh para pekerja dan diambil oleh kelas – kelas pemilik,

Pada tahap ini populasi dari pusat kota baru terdiri, terutama lapisan yang hidup dari pajak yang mengambil surplus dari kerja pertanian. Lapisan ini terdiri dari lapisan para bangsawan, para pemuka agama, para tuan tanah, dan para pejabat. Pekerja dan pelayan yang tidak langsung diberi makan oleh lapisan – lapisan atas melalui pembakian yang sangat tidak adil.

¯ Proses Tahap Kapitalis

Kemunculan kelas – kelas sosial yang berbeda dan antagonistik yang merupakan kelas yang memproduksi dan kelas yang menguasai, mendorong lahirnya negara yang merupakan institusi utama untuk mempertahankan kondisi sosial yang ada, yaitu ketidak adilan sosial. Pembagian masyarakat kedalam kelas – kelas dikonsolidasikan oleh pengambilan alat produksi oleh kelas – kelas pemilik.

Dengan adanya ketimpangan yang terjadi, para kelas menengah merasa keadaan yang terjadi sangat tidak sesuai. Kelas menengah sangat tidak puas dengan keadaan yang ada pada saat itu. Kemudian mereka bersatu untuk menyetarakan derajat mereka dengan para bangsawan dengan jalan perdagangan dan industri dengan tanpa menghiraukan kelas para bangsawan dan petinggi lainya. Ini menandai berawalnya kapitalisme pada saat itu dengan ditandai dengan adanya Renaiasance di segala bidang. Para kelas menengah ini bisa disebut sebagai kaum borjuis.

Periode ini berlangsung begitu saja sejalan dengan perkembangan industri dan peralatan produksi yang mulai canggih. Tumbuhnya kelas baru ini menumbalkan permasalahan baru dalam masyarakat, yaitutumbuhnya kelas – kelas pekerja rendah yang di eskloitasi oleh para kaum borjuis untuk memproduksi lahan industri kaum borjuis dan memperkaya kaum borjuis. Demikianlah periode ini beralangsung. Hubungan dagang antar negara sudah tidak ada batasan lagi, yang kemudian memberikan sebuah kebutuhan produksi tinggi, yang tentunya akan sangat memeras tenaga para kaum proletar atau para kelas pekerja[5].

¯ Tahapan Periode Komunis

Tahapan periode komunis terjadi saat para kaum borjuis semakin kejam menindas para kaum kelas pekerja atau kaum proletar. Kaum proletariat ini kemudian bersatu untuk menghancurkan kaum borjuis, dengan menggunakan ideologi komunis, yaitu persamaan derajad dan persamaan hak serta kehidupan.

Kaum komunis atau marxis ini kemudian berjuang untuk mendirikan sebuah negara pekerja . kediktatoran proletariat dan demokrasi proletar sebagai ganti atas negara borjuis yang selalu berwujud sebagai negara kediktatoran borjuasi. Negara kaum marxis ini bercirikan dengan perluasan dan bukan pembatasan kebebasan demokratik yang efektif bagi masa rakyat pekerja.

Negara kelas pekerja ini akan lebih demokratis dibandingkan dengan negara yang didirikan oleh demokrasi parlementer, karena negara kelas pekerja akan meluaskan demokarasinya secara langsung.

III. Teori Ekonomi Marxis

¯ Teori Nilai dan Nilai Lebih

Setiap langkah maju dalam sejarah peradaban terjadi karen peningkatan produktivitas kerja. Selama sekelompok manusia dengan susah payah memproduksi hanya cukup untuk mempertahankan hidup mereka sendiri, selama tidak ada surplus di atas produk kebutuhan tersebut adalah tidak mungkin terjadi adanya pembagian kerja dan munculnya pekerja ahli, seniman dan kaum terpelajar. Dibawah kondisi tersebut, prasyarat untuk spesialisasi kerja semacam itu dapat dicapai.

ª Produk Surplus Sosial

Selama produktivitas kerja tetap pada tingkat dimana sesorang hanya dapat menghasilkan kebutuhan untuk hidupnya sendiri, pembagian sosial tidak terjadi dan diferensiasi sosial di dalam masyarakat adalah sesuatu yang tidak memungkinkan. Di bawah kondisi tersebut semua orang adalah produsen dan mereka semua berada pada tingkat ekonomi yang sama.

Setiap terjadi peningkatan dalam produktivitas kerja yang melewati titik rendah tersebut membuat surplus kecil menjadi suatu kemungkianan. Ketika terdapat surplus produk, seketika itu pula dua tangan manusia dapat memproduksi lebih dari yang dia butuhkan untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Kemudian dibentuklah suatu kondisi untuk perjuangan bagaimana supaya surplus tersebut dapat dibagikan.

Sejak saat itu pengeluaran kelompok sosial tidak lagi terdiri hanya dari kerja kebutuhan untuk keberlangsungan hidup produsenya. Beberapa hasil kerja tersebut digunakan untuk melepaskan sejumlah kelompok masyarakat dari kewajiban bekerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri.

Ketika situasi tersebut muncul, sekelompok masyarakat tersebut menjadi kelas berkuasa, yang karakteristik luar biasa adalah terbebasnya mereka dari kebutuhan untukn bekerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Sejak saat itu, kerja produsen dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dari kerja tersebut terus digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup si produsen itu sendiri dan ini bisa disebut dengan kerja kebutuhan. Sedangkan bagian yang lainya digunakan untuk menjaga kelas berkuasa dan ini bisa dinamakan surplus kerja[6].

ª Teori alienasi Marxis

Marx menganalisis bentuk hubungan yang inheren antara kerja dan sifat dasar manusia. Hubungan ini ternyata telah diselewengkan oleh kapitalisme. Marx menyebut alienasi sebagai wujud dari hubungan tersebut. Marx menyebut hubungan ini sebagai alienasi karena Marx tidak lagi melihat kerja sebagai sebuah ekspresi dari tujuan manusia. Tidak ada objektifitas dalam pembagian kerja ini. Keadaan ini menindas kaum kelas pekerja yang merupakan kaum proletariat.

Para kelas pekerja teralienasi dari berbagai macam hal yang seharusnya hal itu bisa sangat dekat dan mudah bagi kelas pekerja ini. Ada empat unsur dasar alienasi yang membelenggu para kelas pekerja ini. Yang pertama mereka teralienasi dari aktivitas produktiv mereka yang membuat mereka tidak dapat memproduksi barang berdasarkan ide – ide mereka sendiri. Kemudian mereka juga teralienasi dari produk hasil kerja mereka karena mereka tidak mampu untuk mendapatkanya dengan upah yang sangat sedikit. Kemudian mereka juga teralienasi dari sesama pekerja, sehingga mereka ibarat sebuah robot yang tidak bisa berinteraksi dengan satu sama lain rekanya. Yang terakhir mereka juga teralienasi terhadap potensi kemanusiaan yang sangat parah sekali.

DAFTAR PUSTAKA

Robert.M,2004,Teori Pergerakan Sosial,Resist Book,yogyakarta

Hary.P,2002, Perspektif Marxisme,Pn.Jendela,Yogyakarta

George.R,2008,Teori Sosiologi,Pn.Kreasi Wacana,Bantul.Yogyakarta

Ernest.M,2006,Tesis – Tesis Pokok Marxisme,CV.Langit Aksara,Yogyakarta

Christoper.L,1986,Teori Sosial dan Praktek Politik,CV.Rajawali,Jakarta
[1] Alienasi,ketimpangan yang terjadi karena adanya kapitalisme yang dilakukan oleh kaum borjuis, sehingga kaum proletar semakin tertindas, bahkan untuk menikmati hasil kerja mereka di pabrikpun tidak bisa karena tidak mampu membelinya.(lihat George.R,2008,Teori Sosiologi hal 54-56)

[2] Materialisme, pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di alam kebendaan semata – mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.(KBBI). Hubungan produksi menentukan basis semua masyarakat.

[3] Lihat Ernest.M,2006,Tesis – Tesis Pokok Marxisme hal 1-2.

[4] lihat Ernest.M,2006,Tesis – Tesis Pokok Marxisme hal2-3

[5] Lihat George.R,2008,Teori Sosiologi hal 62-64

[6] Lihat lihat Ernest.M,2006,Tesis – Tesis Pokok Marxisme hal 118-120, dan George.R,2008,Teori Sosiologi hal 54-56.